Teori belajar tentang gaya belajar muncul karena setiap anak memiliki cara yang berbeda untuk memahami sesuatu. Ada yang lebih cepat mengerti sesuatu lewat gambar, ada yang lebih suka mendengar, dan ada juga yang harus mencoba langsung supaya paham.
Sebab itulah, penting untuk memahami berbagai teori gaya belajar. Pasalnya, dengan memahaminya, Anda bisa menyesuaikan cara belajar yang paling sesuai dengan kebutuhan anak.
1. Experiential Learning
Experiential learning adalah teori gaya belajar yang dikemukakan oleh David Allen Kolb. Menurutnya, experiential learning adalah proses belajar melalui pembentukan pengalaman.
Berdasarkan penelitian mahasiswa Universitas Sebelas Maret Surakarta, implementasi experiential learning mampu meningkatkan kualitas pembelajaran hingga 17,87%. Ada empat tahapan pembelajaran experiential learning, yaitu:
- Tahap Pengalaman Nyata (Concrete Experience): Pada tahapan ini, siswa baru bisa merasakan pengalaman, namun belum bisa memahami dan menjelaskan sebuah peristiwa.
- Tahapan Observasi Refleksi (Reflective Observation): Pada tahapan ini, siswa mulai mencari jawaban berdasarkan refleksi peristiwa, termasuk mengembangkan pertanyaan mengapa dan bagaimana.
- Tahap Konseptualisasi (Abstract Conceptualization): Pada tahapan ini, siswa bebas merumuskan atau konseptualisasi hasil dari pengamatan.
- Tahap Implementasi atau Eksperimen (Active Experimentation): Pada tahapan ini, siswa mampu memahami dan mengaplikasikan pengalaman di dunia nyata.
2. Aktivis, Reflektor, Teoritis, dan Pragmatis
Teori belajar ini termasuk tipe belajar humanistik yang dikemukakan oleh Peter Honey dan Alan Mumford. Mereka mengadaptasi teori experiential learning dari Kolb, dengan mengembangkan empat tipe belajar berikut ini.
- Tipe Aktivitas, yaitu tipe yang mengedepankan diskusi dan tak jarang suka dengan kompetisi.
- Tipe Reflektor, yaitu tipe yang suka belajar dengan fokus dan tenang, misalnya di perpustakaan, mengikuti seminar, dan lain-lain.
- Tipe Teoritis, yaitu tipe yang suka menganalisis dan membaca literatur ilmiah.
- Tipe Pragmatis, yaitu tipe yang suka mempraktikkan apa yang mereka pelajari dan kurang menyukai teori.
3. Visual, Auditori, dan Kinestetik
Walter Burke Barbe, ahli ilmu pendidikan asal Amerika, merancang teori gaya belajar yang bernama VAK (Visual, Auditory, Kinesthetic). Berdasarkan penelitiannya bersama Milone pada tahun 1981, Barbe menemukan jika seorang anak memiliki kecenderungan 30% visual, 30% campuran, 25% auditori, dan 15% kinestetik.
Ia juga mengungkapkan bahwa ada tiga tipe belajar anak. Di antaranya adalah sebagai berikut.
- Visual, yaitu tipe yang lebih cepat menangkap materi melalui indera penglihatan, sehingga suka dengan visualisasi gambar.
- Auditori, yaitu tipe yang lebih cepat menangkap materi melalui pendengaran, seperti pemberian instruksi verbal.
- Kinestetik, yaitu tipe yang melibatkan banyak gerakan untuk memahami materi, seperti role playing.
4. Visual, Auditory, Reading/Writing, dan Kinesthetic
Teori belajar VARK atau Visual, Auditory, Reading/Writing, dan Kinesthetic dikembangkan oleh Neil Fleming dengan mengadaptasi gaya belajar VAK. Bedanya ada pada penambahan satu tipe gaya belajar, yaitu membaca atau menulis.
Anak dengan gaya belajar reading/writing cenderung lebih mudah memahami materi dalam bentuk teks. Mereka lebih senang belajar dengan membaca buku, mencatat ulang materi, atau menulis ringkasan materi.
5. Teori Belajar Berbasis Persepsi dan Pemrosesan Informasi
Anthony Gregorc dan Kathleen Butler mengungkapkan bahwa tipe gaya belajar anak berbeda tergantung cara mereka memperoleh dan memproses informasi. Teori ini menyebutkan bahwa persepsi setiap anak merupakan fondasi dari tipe gaya belajar mereka.
Ada dua sifat persepsi menurut Gregorc dan Butler, yaitu:
- Konkret (Concrete), yang mana melibatkan lima indera dalam menyerap informasi.
- Abstrak (Abstract), yang mana melibatkan ide, konsep, serta sifat-sifat yang tak terlihat.
Selain itu, ada dua kemampuan pengurutan, yaitu:
- Berurutan (Sequential), yang mana melibatkan pengorganisasian informasi secara linier dan logis.
- Acak (Random), yang mana melibatkan pengorganisasian informasi secara acak tanpa urutan tertentu.
Teori ini menyatakan bahwa sifat persepsi dan kemampuan pengurutan ada pada setiap anak, namun ada beberapa sifat yang cenderung dominan. Terdapat kombinasi sifat persepsi dan kemampuan pengurutan pada anak, yaitu concrete sequential, abstract sequential, concrete random, dan abstract random.
6. Teori Belajar untuk Pendidikan Teknik dan Sains
Richard Felder dan Linda Silverman mengembangkan tipe gaya belajar yang dikenal dengan sebutan The Felder Silverman Learning Style Model (FSLSM). Tipe gaya belajar ini mengungkapkan bahwa proses belajar terdiri dari dua langkah, yaitu menerima informasi lalu memprosesnya.
Felder dan Silverman menemukan lima area yang memengaruhi proses pembelajaran, yaitu active/reflective, visual/verbal, sensing/intuition, sequential/global, dan inductive/deductive. Mereka menyatakan bahwa siswa yang menggunakan seluruh spektrum bisa mencapai pembelajaran yang optimal.
7. Multiple Intelligence
Howard Gardner, seorang psikolog dari Harvard University, mengembangkan teori multiple intelligence. Teori ini menyatakan bahwa setiap anak memiliki setidaknya sembilan jenis kecerdasan, yaitu:
- Linguistik, yaitu kemampuan menggunakan dan mengolah kata.
- Visual Spasial, yaitu kemampuan menangkap dunia ruang visual.
- Logis-Matematis, yaitu kemampuan menggunakan bilangan dan logika matematika.
- Musikal, yaitu kemampuan mengenai musik.
- Kinestetik, yaitu kemampuan menggunakan gerak tubuh untuk berekspresi.
- Interpersonal, yaitu kemampuan peka terhadap perasaan orang lain.
- Intrapersonal, yaitu kemampuan peka terhadap perasaan sendiri.
- Naturalis, yaitu kemampuan peka terhadap lingkungan alam.
- Eksistensial, yaitu kemampuan menjawab soal yang berhubungan dengan eksistensi alam.
8. NASSP
NASSP (National Association of Secondary School Principals) bukanlah teori belajar, melainkan organisasi pendidikan yang juga mengembangkan model tipe gaya belajar siswa. Menurut organisasi ini, gaya belajar adalah gabungan dari proses internal dan eksternal pada setiap siswa. Ada tiga kategori gaya belajar NASSP, yaitu:
- Kognitif, yaitu cara untuk memahami, mengorganisasi, dan mengingat informasi.
- Afektif, yaitu mencerminkan motivasi dari siswa.
- Fisiologis, yaitu berkaitan dengan kondisi tubuh atau kecenderungan fisik.
9. Pendekatan Kognitif
Anthony Grasha dan Sheryl Riechmann mengembangkan skala gaya belajar yang lebih luas, tidak spesifik seperti sebelumnya. Pendekatan ini mengedepankan psikologi kognitif siswa tentang bagaimana otak memproses informasi. Adapun tipe gaya belajarnya adalah:
- Avoidant atau menghindari;
- Participative atau partisipatif;
- Competitive atau kompetitif;
- Collaborative atau kolaboratif;
- Dependent atau bergantung; serta
- Independent atau mandiri.
Sudah Tahu Macam-Macam Teori Belajar Tentang Gaya Belajar?
Ada banyak teori belajar tentang gaya belajar anak, mulai dari experiential learning sampai pendekatan kognitif. Berbagai teori ini membantu Anda memahami bahwa setiap anak memiliki cara unik dalam menyerap dan memproses informasi. Salah satu cara mengenali gaya belajar anak yaitu melalui asesmen gaya belajar.
Sampoerna Academy dengan kurikulum berstandar internasional mengadopsi pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics). Pendekatan pembelajaran ini tidak hanya menekankan pada penguasaan akademik, tapi juga mengembangkan berbagai keterampilan abad ke-21 melalui praktek langsung.
Yuk, hubungi kami dan cari tahu lebih lanjut tentang bagaimana Sampoerna Academy mendukung gaya belajar anak Anda secara optimal!